Articles » Refreshing » Ketika Sesuatu yang Baik Dianggap Aneh
Ketika Sesuatu yang Baik Dianggap Aneh
Posted on 2005-04-08 01:44:16 - #Hits : 559

Mungkin judul diatas terkesan aneh bagi Anda, tetapi memang begitulah adanya. Dalam kehidupan sehari - hari, kita tidak akan terlepas dari interaksi, hubungan dengan sesama kita. Dari interaksi tersebut muncul bermacam kegiatan seperti bergaul, belajar, bekerja, toleransi, persahabatan, pernikahan bahkan persaingan dan konflik. Apabila interaksi tersebut dikaitkan dengan tempat, maka itulah yang disebut sebagai lingkungan. Kita mempunyai banyak lingkungan, sesuai dengan kegiatan yang kita lakukan, antara lain lingkungan sekolah, lingkungan bekerja, lingkungan masyarakat dan sebagainya.

Masing - masing lingkungan mempunyai kebiasaan yang belum tentu sama dengan lingkungan lainnya. Kebiasaan adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara berulang dan teratur sehingga sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari - hari. Kebiasaan terbagi menjadi dua yaitu kebiasaan baik dan kebiasaan buruk.

Nah, persepsi atau pandangan orang terhadap aktivitas kita dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kebiasaan. Banyak kebiasaan akhirnya disepakati sebagai kebiasaan kolektif karena kebiasaan tersebut dilakukan oleh sebagian besar anggota lingkungan. Pada akhirnya kebiasaan tersebut menjadi sebuah norma yang berlaku pada lingkungan tersebut.

Apabila kita melakukan aktivitas yang sejalan dengan kebiasaan yang berlaku dalam lingkungan tersebut (dalam hal ini kebiasaan sudah berubah menjadi norma), maka kita dinilai sebagai pribadi yang normal. Namun apabila ada aktivitas kita yang tidak sesuai (dan juga bertentangan), maka kita dapat dipandang sebagai pribadi yang 'aneh', karena aktivitas yang kita lakukan tidak lazim, tidak biasa bagi mereka. Padahal apa yang kita lakukan sesuai dengan nilai - nilai agama dan norma kehidupan yang kita anut.

Di dalam sebuah lingkungan pergaulan yang kurang baik, misalnya, maaf, di kampung 'maling' (maling ayam, maling duit, maling waktu, maling berdasi, dsb), perilaku baik kita terkadang menjadi hal yang aneh bagi mereka, padahal dalam pandangan kita, itu adalah sesuatu yang normal, wajar dan baik.

Contoh: di lingkungan sebuah perguruan tinggi X, banyak mahasiswa yang senang dan merasa bebas apabila dosen tidak datang mengajar. Mereka mempunyai pemikiran bahwa kuliah adalah suatu kegiatan yang membebani, mereka lebih baik having fun dengan rekan - rekan mereka. Sementara di pihak lain, ada beberapa mahasiswa yang merasa rugi apabila tidak mendapatkan pelajaran karena sudah berkorban waktu, uang dan tenaga untuk mengikuti perkuliahan. Nah kelompok mahasiswa yang merasa merugi ini akan dianggap aneh oleh kelompok mahasiswa lainnya, karena apa yang mereka lakukan bertentangan dengan norma yang telah disepakati sebelumnya.

Contoh lainnya, di dalam lingkungan pekerjaan. Bagi sebagian besar karyawan maupun pejabat instansi Y, korupsi adalah kegiatan yang wajar.

Sekedar tambahan, sebenarnya banyak diantara kita yang belum memahami masalah korupsi. Ada sebuah cerita waktu itu salah seorang kader partai politik, katakanlah si Fulan, ditugaskan oleh pimpinan untuk membuat atribut partai seperti spanduk, bendera, kaos, dsb. Kemudian si Fulan belanja, barang yang harganya 5000, pada kuitansi pembelian dia tulis 7500. Kemudian salah seorang rekannya bertanya "lho kok biayanya lain, kok lebih besar..?? Itukan mark-up, korupsi". Lalu jawaban si Fulan : "Ya tentu tidak donk, ini bukan korupsi, ini belanja, saya kan harus untung..!!".

Ah.. ternyata pemahaman mengenai korupsi masih minim. Banyak yang berpendapat bahwa korupsi itu 'mencuri' uang, dilakukan oleh Pegawai Negri.. Ya Allah... saya hanya bisa mengelus dada mendengar pemikiran tersebut.

Banyak 'aliran' korupsi yang dilakukan, misalnya korupsi waktu (bekerja tidak sesuai dengan jumlah jam kerja yang telah ditetapkan),korupsi uang (markup biaya kegiatan melebihi kewajaran, mendapatkan uang yang bukan hak-nya), korupsi barang dan jasa (melaporkan keadaan barang melebihi kewajaran dan memanfaatkan barang yang tidak tercatat untuk kepentingan sendiri) dan sebagainya

Nah apabila terdapat karyawan yang mencoba untuk tidak mengikuti 'kebiasaan' tersebut, misalnya menolak kegiatan korupsi kolektif, maka bisa dipastikan akan dipandang sebagai pribadi yang aneh.

Akibat dari pandangan aneh tersebut bermacam - macam, ada yang disingkirkan dalam pergaulan, diberikan pengarahan agar mengikuti kebiasaan yang berlaku, ada yang di-cemooh, tidak dihormati dan dihargai dengan layak sesuai hak dan kewajibannya sampai yang paling ekstrim: dimusuhi, bahkan bila perlu dimusnahkan. Berbagai macam cara dan pendekatan dilakukan, dari yang paling halus sampai paling kasar sekalipun. Tujuannya hanya satu: menghilangkan kebiasaan aneh.

Pada contoh kasus pertama, kelompok mahasiswa kedua akan disingkirkan misalnya tidak diikutkan dalam kegiatan ekstra kampus bahkan dalam organisasi kampus. Akibat lainnya adalah timbulnya kelompok - kelompok mahasiswa dengan membawa perbedaan yang cukup tajam. Seperti yang pernah kita simak melalui media televisi maupun media cetak, interaksi kelompok mahasiswa dengan perbedaan yang cukup tajam sangat mudah menimbulkan konflik dan memicu tawuran massal.

Konflik seperti ini juga berlaku bagi kelompok lain dalam suatu lingkungan. Sudah sering terjadi perkelahian antar RT, RW dan kelompok masyarakat lainnya.

Pada contoh kasus kedua, juga bermacam - macam, antara lain karir yang dihambat, tambahan atau kenaikan penghasilan yang tak kunjung diberikan, Surat Peringatan sampai pemberhentian dengan tidak hormat.

Apa yang dipaparkan beberapa paragraf di atas adalah secuil dari berbagai permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan kita. Masih banyak kasus yang terjadi.

Yah begitulah apabila sesuatu yang baik dianggap aneh.


back
top
Best viewed with XHTML1 and CSS2 compliant browser @ 1024x768x32 Misc. Info
Copyright © 2003 - 2005, Bayu Prasetio.