Articles » Refreshing » Manifestasi Kesempurnaan dan Ketinggian 'Ubudiyah
Manifestasi Kesempurnaan dan Ketinggian 'Ubudiyah
Posted on 2005-02-15 01:25:40 - #Hits : 405

Manifestasi kesempurnaan dan ketinggian 'ubudiyah kepada Allah ini ialah menegakkan seluruh kewajiban yang harus ditegakkan manusia. Atau dengan kata lain menunaikan hak-hak dan kewajiban manusia.

  1. Hak Allah
  2. Hak kedua orang tua
  3. Hak suami istri
  4. Hak kaum kerabat
  5. Hak tetangga
  6. Hak kerja dan usaha
  7. Hak sesama Muslim
  8. Hak warga negara
  9. Hak negara
  10. Hak kemanusiaan dan sesama manusia

Muslim adalah manusia sempurna yang memberikan suluruh hak kepada yang berhak. Ia menunaikan kewajibannya secara total. Inilah salah satu sisi dari 'ubudiyah kepada Allah. Muslim adalah manusia yang tidak meninggalkan satu pun kewajibannya. Manusia tidak ada yang menandingi keutuhan kemanusiaannya.

Hak para hamba, di sisi Allah, dihitung lebih banyak dari pada hak Allah khusus. Sebab di dalam hak hamba terdapat dua hak sekaligus, yaitu hak Allah di dalam mentaati perintah-Nya dan hak hamba yang diberikan Allah kepada mereka. Karena itu suruhan dari hak Allah semata, lebih dekat dari pada suruhan dari hak yang disertai denga hak makhluk.

Hak Allah
Hak Allah ialah Anda mengimani Dzat, shifat dan ad'al-Nya, perintah Allah untuk mengimani para Rasul, Malaikat, Kitab-kitab, hari akhir dan taqdir serta apa yang dibawa para Rasul.

Hak Allah ialah mengakui-Nya sebagai Ilah dan tidak memperhatikan yang lain. Karena itu tidak ada ketaatan kepada yang selain-Nya kecuali dalam ketaatan-Nya, tidak lebih mencintai selain-Nya atau menyamakan cinta kepada-Nya dengan cinta kepada selain-Nya, tidak berdo'a kepada selain-Nya, tidak bertawakal dan bergantung kepada selain-Nya dan tidak menghambakan diri selain kepada-Nya.

Hak Allah ialah mengingat-Nya. Karena itu tidak boleh melalaikan-Nya baik dalam amal ataupun tingkah laku.

Hak Allah ialah kerja sama kaum Muslimin untuk menegakkan satu negara (dawlah) yang dapat menegakkan ketentuan-ketentuan Allah dan melaksanakan perintah-Nya.

Hak Allah ialah berjihad di jalan-Nya sehingga hanya Kalimah-Nya yang tertinggi di alam ini.

Dan hak Allah ialah meneladani Rasul-Nya di dalam setiap kondisi dan situasi. Allah berfirman:
"Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." [Ali 'Imran:31]
Hak Allah tercermin dalam perintah shalat, shiyam, zakat, hajji, dzikir dan do'a. Hak Allah ialah menerima hikmah-Nya apabila telah nyata sebagai hikmah-Nya. Dan hak Allah ialah memakan makanan yang dihalalkan-Nya, berusaha secara halal dan menunaikan hak-hak Allah di dalamnya.

Ringkasnya, hak Allah ialah menunaikan seluruh hak-hak yang ada kepada pemiliknya, mengerjakan semua itu semata-mata karena Allah, hanya menginginkan keridhaan dan Jannah-Nya. Akhirnya Allah akan memberikan kebaikan yang Anda ingini di dunia dan akhirat.

Firman Allah:
"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mu'min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." [Al-Isra':18,19]
Dengan demikian membela syari'at-Nya adalah sebagian dari hak Allah. Begitu juga menegakkan Dawlah-Nya, membentuk pribadi Muslim, menyatukan ummah jika terpecah, meneladani Rasulullah SAW, berjihad di jalan-Nya sehingga satu-satunya Kalimatullah menjadi yang tertinggi di alam dunia ini, kemudian mengharap ridha Allah SWT. Firman Allah:
"Katakanlah, "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur'an)." [Al-An'am:90]

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." [Al-Qashash:83]
Hak Kedua Orang Tua
Hak kedua orang tua ialah, mentaati, menafkahi, melayani, mencintai keudanya sebagaimana kedua orang tua tersebut melakukan hal itu ketika anaknya kecil. Kemudian bergaul dengan keduanya dengan baik. Sedangkan hak ibu lebih besar dari hak bapak. Karena ibu lebih payah dan berat dalam mengurus anak. Ia mengandung anaknya, melahilrkan, menyusui dan mengasuhnya. Kedua orang tua harus diutamakan daripada yang lainnya; seperti anak, istri, suami, teman dan lain-lainnya. Rasulullah SAW menerangkan adanya penyelewengan di kalangan ummah Islam sebelum terjadi qiamat, di mana seseoarng lebih mengutamakan teman-temannya daripada kedua orang tuanya. Rasulullah SAW bersabda:
"Dari Abu Hurairah ra, katanya, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW bertanya, "Siapakan yang lebih berhak bagiku akan berbuat baik kepadanya?" Jawab Rasulullah SAW, "Ibumu". Kemudian siapa? Jawab Rasulullah SAW, "Ibumu". Kemudian siapa lagi? Jawab Rasulullah SAW, "Ibumu". Kemudian sesudah itu siapa lagi? Jawab Rasulullah SAW, "Bapakmu". [HR. Muslim]
Dan hak-hak ini harus tetap dilaksanakan dalam ketentuan-ketentuan Allah. Berbuat baik kepada kedua orang tua yang musyrik juga kita diharus kan. Kecuali jika mereka menyuruh sesuatu yang bertentangan dengan Islam.
"Dari Asma', ia berkata, "Aku mengunjungi ibuku. Dan ia masih dalam keadaan musyrik. Kemudian aku meminta fatwa kepada Rasulullah SAW, aku berkata, "Aku telah mendatangi ibuku dan ia suka sekali, apakah aku meneruskan hubunganku dengan ibuku?" Jawab Rasulullah SAW, "Teruskan hubunganmu dengan ibumu." [HR. Syaikhan]
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik - baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali mengatakan perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, "Wahai Rabb-ku, kasihanilah mereka keduanya, sebagai mana mereka berdua mendidik aku waktu kecil." [QS. Al-Isra':23-24]
"Seorang laki-laki berkata, "Ya Rasulullah SAW, adakah sesuatu kebaikan yang dapat aku persembahkan kepada kedua orang tuaku sepeninggal mereka berdua?" Jawab Rasulullah SAW, "Ya, menshalatkan keduanya, memohonkan ampun keduanya, menepati janji keduanya setelah keduanya meninggal, menyambung tali keluarga yang tidak disambung keduanya dan menghormati teman-teman keduanya." [HR.Abu Dawud]
Dan hak kedua orang tua yang lain ialah, kerelaan kedua orang tua. Karena itu kita harus berbuat sesuatu yang menjadikan keduanya ridha. Tirmidzi mengeluarkan satu hadits:
"Ridha Rabb ada dalam ridha kedua orang tua dan kemarahan Rabb ada dalam kemarahan orang tua."
Hak Suami Istri
Hak suami istri meliputi berbagai hal. Sebagian telah dibicarakan di muka. Sedangkan hak anak atas kedua orang tuanya meliputi; mendapat pakaian, makanan, pendidikan, kebaikan dan mendapatkan nama yang baik serta kesiapan untuk melaksanakan kewajiban bagi laki-laki ataupun perempuan.

Hak seorang anak, di dalam Islam, yang belum mencapai akil baligh, belum mencapai usia 15 tahun bagi anak laki-laki dan belum dikenal taklif, adalah mendapat pendidikan agar dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya setelah ia terkena taklif. Pendidikan ini meliputi pendidikan yang sifat 'ibadah, jihadiyah, amaliyah, lisaniyah, akhlaqiyah, aqidiyah dan 'ilmiyah. Karena itu seorang anak berhak mendapatkan latihan shiyam dan shalat, renang, menunggang kuda dan mempergunakan alat-alat perang, latihan kerja dan usaha, berbicara, amar ma'ruf dan nahyi munkar, latihan mental, penanaman aqidah, pelajarang fardhu 'ain, Kitab, Sunnah dan fiqh serta beberapa fardhu kifayah.

Dan di antara hak-hak anak adalah mendapat perlakuan yang sama dan adil sesama mereka. Dalam al-Qur'an Ibrahim berdu'a untuk anak-anaknya dan berwashiat kepada keturunannya:
"Dan Ibrahim telah mewashiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim) berkata, "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". [QS. Al-Baqarah:132]
"Ya Rabb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami perkenankan du'a kami". [QS. Ibrahim:40]
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kezhaliman yang besar.

Dan Kami perintahkan kepda manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepda-Ku-lah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang kamu kerjakan.

(Luqman berkata), "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar dan bershabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai". [QS.Luqman:13-19]
Berkenan dengan anak ini Rasulullah SAW berwasiat:
"Tidak ada pemberian orang tua yang paling utama kepada anaknya kecuali mendidiknya denga baik". [HR. Tirmidzi]
"Orang tua yang mendidik anaknya lebih baik daripada ber sedekah satu gantang".
"Barangsiapa mengasuh dan membiayai 3 anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua orang saudara perempuan atau dua orang anak perempuan dan ia mendidik mereka, memperlakukan mereka dengan baik serta mengawinkannya, maka baginya surga". [HR. Abu Dawud]
"Didiklah anak-anakmu atas kecintaan Nabimu dan keluarga nya dan membaca al-Qur'an".
"Hai anak, Bismillahlah, makanlah dengan tangan kananmu dan ambilah apa yang dekat denganmu".
"Wahai anak, jagalah (hubunganmu dengan) Allah, Allah kamu akan mendaptkan-Nya memperhatikanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah sesungguhnya jika satu bangsa berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat apa-apa kepadamu, kecuali sesuatu yang telah ditentukan Allah untukmu. Dan jika mereka berkumpul akan mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak aka dapat mencelakakanmu kecuali sesuatu yang telah ditentukan Allah atasmu. Diangkatlah qalam dan keringlah shuhuf".
"Ketika seorang laki-laki menunjukkan satu pemberian dari salah seorang anaknya, ia ditanya, "Apakah kamu memberi makan anak-anakmu seperti ini"? Ia menjawab, "Tidak". Jawab Rasulullah SAW, "Aku tidak menyaksikan aniaya".
Semua itu merupakan refleksi dari firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan ahli warismu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaga-penjaganya adalah Malaikat-malaikat yang kasar, yang keras dan yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". [QS. At-Tahrim: 6]
Hak Kaum Kerabat
Dalam bab lalu telah dikemukakan beberapa ketentuan tentang jaminan nafqah suami terhadap istri dan terhadap kaum kerabat terdekat serta aspek-aspek lain yang berkait dengan kaum kerabat. Sebagai tambahan, sebagian dari hak kaum kerabat ialah mengenal dan menjalin shilaturrahim.
"Kenalilah sanak saudaramu yang dapat menyambung tali keluargamu. Sesungguhnya shilaturrahim menimbulkan kecintaan di dalam keluarga".
Dan di antara hak kaum kerabat ialah menghubungi mereka semampunya dengan berbagai cara. Menyambung tali keluarga ini merupakan sebagian dari kewajiban Muslim. Sekurang-kurangnya melakukan kunjungan, saling mengucapkan salam, berkirim-kiriman surat dan bertukar hadiah. Allah SWT melipatgandakan pemberian yang diberikan kepada kaum kerabat. Rasulullah SWA bersabda:
"Sedekah kepada orang miskin (bernilai) satu sedekah, dan kepada kaum kerabat (dinilai) dua sedekah".
Allah SWT mengidentikkan orang yang memutuskan tali kekeluargaan sebagai merusak di bumi. Allah berfirman:
"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan"? [QS. Muhammad: 22]
Pemutusan hubungan keluarga ini (diidentikkan) dengan membuat kerusakan di bumi karena ia merupakan indikasi kekacauan pribadinya dan kehilangan sifat-sifat dasar kemanusiaannya, seperti kasih sayang, cinta dan semacamnya. Barangsiapa tidak memelihara kasih sayang keluarganya ia tidak akan mampu menjaga hak-hak orang yang bukan keluarganya dan tidak dapat memberika hak-hak makhluq. Akibatnya ia juga melupakan hak-hak Allah. Karena itu tanda-tanda terputusnya hubungan dengan Allah terlihat dalam keputusan seseorang dengan keluarganya. Rasulullah SAW bersabda:
"Tali keluarga itu tergantung di 'Arasy, ia berkata, "Barangsiapa menyambung ia disambungkan Allah, barangsiapa memutuskanku ia akan putus dengan Allah". [HR. Syaikhan]
Hak - Hak Tetangga
Hak tetangga yang paling minimal ialah tidak menyakitinya, tidak menyakiti kehormatan, harta jiwa dan anak. Tetangga jelek ialah yang membikin orang selalu dalam kewaswasan, ketakukan, kesempitan dan kesengsaraan. Seseorang yang tidak memberikan dan menunaikan hak minimal tetangga ini akan dimasukkan ke neraka, meski ia berbuat banyak kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
"Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari bahayanya". [HR. Muslim]
"Para shahabat menyebut kepada Rasulullah SAW seorang wanita yang rajin shalat, tetapi dia suka menyakiti tetangganya. Rasulullah SAW bersabda, "Ia di neraka".
Hak tetangga yang lain ialah memperhatikan keberadaannya. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah beriman orang yang ia kenyang, sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan dan ia tahu".
Setelah disusul dengan berbuat ihsan, melakukan hubungan dan kebajikan dengan tetangga.
"Ibnu 'Umar menyembelih seekor kambing kemudian ia berkata kepada istrinya, "Apakah tetangga Yahudi yang sebelah ini sudah diberi"? Keluarganya menjawab, "Belum"? Ia berkata, "Berikan sebagian kepadanya karena Rasulullah SAW bersabda, "Selalu Jibril mewashiatkan aku dengan tetangga, sehingga aku menyangka ia akan mewarisi".
"Janganlah kamu larang tetangga yang menancapkan sepotong kayu di temboknya".
Sedangakan di antara fenomena keimanan seseorang kepada Allah dan hari qiamat tampak pada kebaikan dia kepada tetangganya. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah dengan tetangganya".
Hak Kerja dan Usaha
Seorang Muslim, sebagai refleksi dari kesadarannya terhadap hak kerja, ia selalu menekuni pekerjaannya. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah menyukai kamu apabila mengerjakan suatu pekerjaan ditekuninya."
Hak lain ialah tidak menipu di dalam bekerja.
"Barangsiapa menipu maka bukan dari golonganku."
Jika dia seorang pedagang, maka tidak boleh menipu dan curang. Rasulullah SAW bersabda:
"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama-sama dengan Nabiyyin, Shiddiqin dan Syuhada."
Hak-hak kerja ini berkaitan dengan pekerjaan yang dibolehkan syari'at, bukan yang diharamkan atau dimakruhkan. Karena itu syarat bekerja ialah memahami pekerjaan itu. Umar berkata, "Janganlah berdagang di pasar kita kecuali orang yang memahami agama."

Berkenaan dengan pegawai pemerintahan atau pekerja umum atau khusus, maka hak pegawai atau pekerja terhadap pekerjaannya ia harus kuat dalam bekerja, terpercaya dan dapat menjaga pekerjaan, mengetahui detil dan pelaksanaannya. Sehubungan dengan ini Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi terpercaya." [QS. Al-Qashash:26]
"Berkata Yusuf, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan." [QS. Yusuf: 55]
"Abu Dzar berkata kepada Rasulullah SAW, "Apakah engkau tidak mengangkatku sebagai pegawai?" Rasulullah SAW lalu menepuk kedua bahunya seraya berkata, "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu lemah dan ia amanah dan di hari kiamah akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang memenuhi haknya dan menunaikan kewajibannya." [HR. Muslim]
Hak Sesama Muslim
Rasulullah SAW bersabda:
"Hak Muslim terhadap Muslim ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendatangi undangan dan mendo'akan akan orang yang bersin." [HR. Khamsah]

"Muslim menambahkan, "Jika kamu diundang, maka penuhilah dan jika kamu diminta nasihat maka nasihatilah."
Karena itu hak Muslim sesama Muslim ialah saling menasihati. Rasulullah SAW bersabda:
"Agama itu nasihat." Kami bertanya kepada beliau, "Nasihat kepada siapa?" Jawab Rasulullah SAW, "Terhadap Allah, Qur'an, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin dan seluruh kaum Muslimin."
"Muslim itu saudara Muslim lainnya, tidak menghinakan, menipu dan menzhalimi. Sesungguhnya salah seorang dari kamu adalah cermin saudaranya, maka jika ia melihat sesuatu yang membahayakan, maka singkirkanlah."
Dan di antara hak Muslim adalah mengucapkan salam kepada sesama Muslim. Sabda Rasulullah SAW:
"Demi Dzat yang diriku dalam genggamanNya, mereka tidak masuk surga sehingga mereka beriman, dan mereka tidak beriman sehingga mereka saling menyinta. Maukan kamu aku tunjukkan sesuatu yang jika kamu mengerjakannya kamu saling menyinta? Sebarkan salam di kalangan kamu."
"Dari Abu Hurairah Ra, "Rasulullah SAW bersabda, "Yang berkendaraan lebih dahulu mengucapkan salam kepada yang berjalan kaku; yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan rombongan yang sedikit mengucapkan salam kepada rombongan yang banyak." [HR. Muslim]
Termasuk dalam kategori salam ini ialah berjabatan tangan. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah dua Muslim yang bertemu kemudian mereka berjabatan tangan, melainkan Allah mengampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah."
"Berjabatan tanganlah kamu, karena berjabatan tangan itu dapat menghilangkann kedengkian dan iri hati."
Dan hak Muslim lainnya ialah mendapat kunjungan ketika ia sakit. Dalam sebuah hadist diriwayatkan:
"Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia selalu berada dalam pekerjaan surga sampai ia kembali."
"Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi seorang saudara karena Allah SWT, ia akan diseru oleh orang penyeru, berbahagialah elusanmu dan kamu ditempatkan disatu tempat surga." [HR. Tirmidzi]
Mengiringi jenazah juga salah satu hak Muslim atas Mulim lainnya. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa mengiringi jenazah dan mendukungnya sebanyak tiga kali, berarti ia telah melaksanakan hak atasnya." [HR. Tirmidzi]
Hak Muslim atas Muslim lainnya ialah mendo'akan saudaranya yang sedang bersin.
"Jika salah seorang dari kamu bersin maka ucapkanlah "Alhamdulillah" atas setiap keadaan. Dan ucapkan kepadanya saudaranya atau temannya, "Yarhamukallah." Dan jika temannya mengucapkan itu, maka katakan, "Yahdini wayahdikumullah wa yushlih balakum." [HR. Bukhari]
Dan jika seorang Muslim mengundang saudaranya maka ia berhak didatangi. Karena itu kewajiban yang diundang adalah mendatangi undangan tersebut. Rasulullah SAW bersabda:
"Penuhilah undangan ini jika kamu diundang."
Dan Ibnu Umar mendatangi undangan walimah dan lainnya, padahal ia dalam keadaan berpuasa (bukan Ramadhan)." [HR. Khamsah, kecuali Nasa'i]
Bahkan dalam riwaya Abu Dawud disebutkan:
"Barangsiapa diundang kemudain dia tidak memenuhi undangan tersebut, maka ia telah membangkang Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa masuk tanpa diundang, maka ia masuk sebagai pencuri."
"Jika ada dua orang yang mengundang, maka penuhilah yang paling dekat pintunya. Jika keduanya berdekatan pintu maka yang paling dekat bertetangga. an penuhilah yang lebih dulu mengundang."
Seorang Muslim tidak boleh bersangka buruk terhadap saudaranya. Ini adalah salah satu hak dia atasnya. Juga tidak memata-matai, tidak mendengki, tidak membenci, tidak memberi nama jelek yang tidak disukainya, tidak menzhalimi, tidak menghina dan tidak merusak harta, darah dan kehormatannya. Pengertian ini tercakup dalam hadits Rasulullah SAW berikut:
"Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah saling membenci, mendengki dan bermusuhan; dan hendaklah kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak dihalalkan bagi seorang Muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya selama lebih dari tiga hari." [HR. Muslim]
"Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Takutlah dengan berburuk sangka, karena buruk sangka itu sedusta-dustanya perkataan. Janganlah memata-matai, mencari cari kesalahan orang, menyaingi, saling mendengki, saling bermusuhan dan saling mendendam. Dan jadilah kamu sebagai hamba Allah yang bersaudara."
"Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupamu dan kekayaanmu, tetapi Allah melihat hatimu dan amal perbuatanmu." [HR. Muslim]
Hak Muslim atas Muslim lainnya ialah jika seseorang Muslim menjadi tawanan ia berhak dibebaskan oleh Muslim lainnya dan bila ia lapar berhak mendapatkan makanan dari saudarannya. Rasulullah SAW bersabda:
"Berilah makan orang yang kelaparan, tengoklah orang yang sakit dan lepaskan orang yang menjadi tawanan."
Hak seorang Muslim ialah tidak menyebar-nyebarkan rahasianya. Rasulullah SAW bersabda:
"Mahkamah-mahkamah itu dengan amanah (tidak disiarkan) kecuali tiga mahkamah: orang yang membunuh tanpa hak, berzina dan perampok." [HR. Abu Dawud]
Hak Muslim lainnya ialah menolong, membela, menutupi aibnya, meringankan kesukarannya, memenuhi hajatnya, memuliakan, menghormati yang besar, menyayangi yang kecil dan enolak orang yang menggibahnya. Rasulullah SAW bersabda:
"Bukan dari golonganku, orang yang tidak menyayangi yang kecil dan menghormati yang tua dan menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang munkar." [HR. Tirmidzi]
"Adalah Rasulullah SAW jika datang seorang yang memerlukan sesuatu, menghadapkan kepada sahabat-sahabatnya, sambil berkata, "Tolonglah, kamu akan mendapat pahalah dan Allah memutuskan atas lisan Nabi-Nya sekehendak-Nya."
"Barangsiapa menjaga kemhormatan saudaranya, Allah akan menolak api dari wajahnya dari hari kiamah." [HR. Tirmidzi]
"Barangsiapa menolong orang yang teraniaya sehingga meneguhkan haknya, maka Allah akan meneguhkan telapak kakinya di atas shirath ketika telapak-telapak kaki berguncang."
"Barangsiapa melapangkan kesusahan dari kesusahan dunia seorang Mu'min, Allah akan melapangkan dari kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa melepaskan kesukaran seorang Mu'min, Allah akan melepaskan kesukarannya di dunia dan di akhirat. Dan barang siapa menutup (aib) seorang Muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selau menolong hamba-Nya selam hamba tersebut menolong suadaranya. Barangsiapa berjalan di jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahka baginya jalan ke surga."
Dan hak Muslim lainnya ialah turut merasakan penderitaannya dan menanggung tugas-tugasnya. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa pagi-pagi cita-citanya bukan kepada Allah, maka ia bukan dari Allah. Barangsiapa pagi-pagi tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan golongan mereka."
"Dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang-orang Mu'min dalam saling menyayangi, saling mengasihi dan saling menyintai, laksana satu tubuh, apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya merasa terganggu, seperti terkena tidak bisa tidur dan demam." [HR. Muslim]
Hak Warga Negara (Nonmuslim)
Menepati janji mereka adalah salah satu jenis perlindungan DAULAH ISLAMIYAH terhadap nonmuslim di bumi Islam setelah mereka menunaikan hak pengakuan mereka terhadap kekuasaan kaum Muslimin dan membayar jizyah. Karena itu Daulah Islamiyah tidak boleh mengambil dari mereka lebih dari apa yang telah disepakati. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangkali kamu memerangi satu kaum dan kamu menang atas mereka, maka mereka takut kepadamu dengan harta mereka selain jiwa dan keturunan mereka, maka berdamai denganmu atas perdamaian. Karena itu janganlah kamu mengenakan dari mereka lebih dari itu, karena perbuatan itu tidak baik bagi kamu."
"Sesungguhnya Allah SWT tidak menghalalkan kamu memasuki rumah-rumah ahli kitab kecuali dengan idzin dan tidak boleh memukul wanita mereka dan tidak boleh memakan buah-buahan mereka apabila mereka membayar kewajiban mereka." [HR. Abu Dawud]
"Barangsiapa dengan sengaja membunuh seseorang kafir yang terikat dengan perjanjian (mu'ahid) di dalam ketidakbenarannya, maka Allah mengharamkan surga atasnya."
"Barangsiapa menzhalimi kafir mu'ahid, mengurangi haknya atau membebani sesuatu di luar kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya dengan tanpa kebaikan jiwanya, maka aku akan mendaulatnya di hari kiamat."
Sebelum ini telah dijelaskan bahwa kaum Muslimin dilarang memaksa mengubah agama mereka dan tidak boleh membantah keyakinannya kecuali dengan cara yang lebih baik.

Jika ia masuk Islam maka gugurlah seketika itu juga status kedzimmiannya dan ia menjadi Muslim yang sama mempunyai hak dan kewajiban seperti Muslim lainnya.
Hak Negara
Negara termaksud dapat dikategorikan menjadi negara KAFIR, negara MUSLIM FASIQ dan negara MUSLIM SHALIH. Jika negara itu kafir, maka kewajiban Muslmi berjihad terhadapnya. Sedangkan berkenaan dengan negara Muslim yang fasiq, seorang Muslim setidak-tidaknya tidak memberikan dukungan kepada kefasiqannya. Rasulullah SAW bersabda:
"Aku berlindung dengan Allah tentang kamu ya Ka'ab bin 'Ijrah dari para pemimpin sesudahku. Barangsiapa menutup pintu mereka dan membenarkan kebohongan mereka serta mendukung kezhaliman mereka maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, serta ia tidak akan mendapat haudh (telaga di surga). Dan barangsiapa tidak menutup pintu mereka, membenarkan kebohongan mereka dan tidak mendukung kezhaliman mereka, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongan mereka dan akan mendapatkan haudh." [HR. Tirmidzi]
Tetapi jika daulah tersebut benar-benar menjalankan syari'at Islam dan menjadi DAULAH ISLAMIYAH SHALIHAH, maka seluruh kaum Muslimin WAJIB mentaati Amir mereka dalam hal yang ma'ruf, baik dalam keadaan lapang ataupun sukar, dalam persoalan yang tidak disenangi ataupun yang disenanginya. Jika ia memerintahkan sesuatu, kaum Muslimin wajib mentaatinya. Dan jika salah seorang menentang pemerintahannya atau melakukan pemberontakkan terhadapnya, maka seluruh kaum Muslimin wajib membela dan berdiri bersama Amir. Malah mereka berhak memeranginya. Rasulullah SAW bersabda:
"Patuh dan taatlah kamu sekalian kepada orang yang memimpin urusan kamu, meski ia seorang budak Habsyi yang kepalanya seperti buah zabibah, selama ia menegakkan Kitabullah di tengah-tengah kamu." [HR. Bukhari]
"Seorang Muslim wajib taat dan patun kepada pemimpinnya dalam persoalan yang disukai atau yang tidak disukainya, kecuali ia memerintahkan kema'shiyatan. Jika ia memerintah kema'shiyata, maka tidak ada kewajiban patuh dan taat." [HR. Khamsah]
"Barangsiapa membangkang dan memisahkan dari jama'ah, kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah." [HR. Syaikhan]
"Barangsiapa mentaatiku maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah dan barangsiapa membangkangku maka sesungguhnya ia membangkang Allah, dan barangsiapa mentaati Amir maka sesungguhnya ia mentaati aku, dan barangsiapa membangkang Amir maka sesungguhnya membangkangku." [HR. Syaikhan dan Nasa'i]
"Jika ada dua orang Khalifah dibai'at maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya."
Hak ketaatan ini mencakup seluruh apa yang diperintahkannya selama dalam hal yang ma'ruf. Jika ia memerintah seorang Muslim maka ia wajib mentaatinya. Jika bentuk perintah itu termasuk masalah mubah misalnya, maka bagi yang diperintahkan mengerjakannya oleh Amir menjadi wajib melaksanakannya.

Misalnya, seorang Amir mengeluarkan satu undang-undang yang mengatur jalan, maka melaksanakan perintah tersebut menjadi wajib. Dan siapa yang menyalahinya akan berdosa di sisi Allah dan dapat dikenai hukuman di dunia.
Hak Kemanusiaan dan Sesama Manusia (Hak Mahluk Lain)
Semua makhluk Allah dari mulai batu-batuan, jalan, binatang, orang-orang kafir yang berada di luar negara Islam, jin, malaikat, ruh, alam ghaib, makanan, minuman dan seluruh yang ada di dunia ini, mempunyai hak masing-masing atas seorang atas seorang Mulim.

Karena itu seorang Muslim wajib mengetahui hak-hak masing-masing makhluk tersebut dan menunaikan denga utuh, penuh kesadaran dan kerelaan.

Contoh-contoh tersebut (1-10) adalah sebagian dari hak-hak yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim. Dan dengan contoh-contoh tersebut kita dapat mengetahui kesempurnaan dan keintegralan hak-hak tersebut dan kesempurnaan orang yang menegakkannya. Untuk mengetahui seluruh hak-hak ini secara detil, seseorang harus melakukan studi mendalam terhadap al-Qur'an dan al-Sunnah serta kitab-kitab fiqh. Dengan studi ini seseorang akan tahu betapa rincinya hak-hak yang harus kita tunaikan dalam hidup ini.


back
top
Best viewed with XHTML1 and CSS2 compliant browser @ 1024x768x32 Misc. Info
Copyright © 2003 - 2005, Bayu Prasetio.