Citra Wajah Sebagai Alat Identifikasi
Posted on 2005-02-11 02:33:50 - #Hits : 5857
Pendahuluan
Pemanfaatan pengolahan citra dalam era yang hampir serba digital ini sangat dibutuhkan.
Analisa komposisi suatu citra dapat berdampak terhadap perubahan kehidupan.
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah salah satu pemanfaatan pengolahan citra.
Pemotretan citra suatu daratan dari satelit dapat menggambarkan apa yang tersimpan
di dalam daratan tersebut. Dari tingkat ketinggian, kesuburan, kandungan air, mineral
maupun sumber daya alam lainnya. Bahkan keberadaan tempat rahasia seperti bunker, gudang
senjata, dan penyimpanan senjata nuklir pun dapat dideteksi.
Efek - efek khusus seperti efek ledakan, adegan perubahan wujud (mutasi) pada pembuatan
suatu sinema juga tak lepas dari peranan pemanfaatan teknologi pengolahan citra.
Bidang keamananpun tak luput untuk memanfaatkan teknologi ini. Teknologi pengenalan
wajah atau lebih dikenal dengan face recognition sedikit banyak dapat membantu penegak
keamanan dalam menjalankan tugasnya. Dengan perangkat lunak face recognition ini,
penegak hukum dapat mencari variasi perubahan wajah seorang tindak kriminal. Sehingga
walaupun penjahat tersebut berusaha menyamar, penegak hukum dapat mengenalinya.
Untuk itu melalui makalah ini penulis mencoba memberi sedikit informasi mengenai teknologi
pengenalan wajah ini, baik implementasi maupun cara kerja teknologinya.
Sekilas mengenai pengenalan citra wajah
Teknologi identifikasi penjahat terutama oleh pihak kepolisian terus berkembang.
Jika semula polisi hanya berpedoman pada ilustrasi gambar wajah dan sidik jari penjahat,
kini teknologi tersebut sudah jauh berkembang lebih baik.
Dengan teknologi yang sudah ada, pengenalan citra wajah diproses melalui sistem digital,
artinya citra - citra wajah diolah oleh sistem komputer dengan menggunakan teknologi
kecerdasan buatan untuk memperoleh segala bentuk perubahan pada wajah tersebut yang
mungkin terjadi. Hal ini memungkinkan kepolisian dapat mengenali pola wajah seorang
penjahat walaupun penjahat tersebut mengenakan kacamata, memotong rambut, janggut,
bahkan perubahan wajah karena bertambahnya umur.
Dengan sistem pengenalan wajah ini, maka tindak kriminalitas dapat ditekan. Namun
seberapa efektifkah sistem pengenalan wajah ini?
Sebagai ilustrasi dapat disimak pada sebuah contoh kasus berikut. Seorang detektif
Richard sedang berpatroli di kasino dalam sebuah hotel di Atlantic City, Amerika Serikat,
saat melihat seseorang yang wajahnya mereka kenali. Orang itu adalah Michael, seorang
residivis, pencuri kecil-kecilan, pemeras dan penipu yang memiliki banyak catatan kejahatan.
Bisa jadi kehadirannya kali ini juga untuk berbuat kriminal tapi para detektif itu
tidak bisa langsung bertindak mengingat belum ada bukti yang kuat. Mereka meminta
informasi dari markasnya kalau ada perintah penangkapan atas Michael. Hasilnya nihil.
Dahulu ceritanya akan berakhir di sini. Sekarang detektif Boero, seorang polisi veteran
yang bertugas di divisi Gaming Enforcement, bisa bertindak lain. Dia kembali ke kantornya,
menyalakan komputer dan menekan tombol search untuk memperoleh tampilan wajah Michael
secara digital. Didapatnya serangkaian wajah pria yang secara bervariasi mirip dengan Michael.
Beberapa di antaranya adalah Michael sendiri namun menggunakan nama berlainan.
Boero lalu memeriksa daftar perintah penangkapan untuk nama-nama tersebut. Dua di antaranya
ternyata dicari karena mencuri mobil. Bergegas sang detektif kembali ke kasino dan membekuk Michael.
Sang penjahat sendiri tidak melawan dan mengakui perbuatannya. Skor 1-0 untuk perangkat lunak
pengenalan wajah (face recognition).
Implementasi Sistem Pengenalan Wajah
Implementasi sistem pengenalan wajah sebenarnya sangat luas, tidak hanya terbatas seperti
yang telah dijelaskan dalam ilustrasi di atas. Namun umumnya, implementasi sistem ini untuk
keperluan keamanan (security purpose), baik untuk keperluan pribadi maupun korporasi.
Implementasi penggunaan pribadi sistem pengenalan wajah dapat diaplikasikan untuk mengunci
atau membatasi penggunaan komputer oleh orang yang tidak berhak. Dengan perangkat lunak dan
perangkat keras yang telah disesuaikan, komputer akan mengunci secara otomatis begitu pemilik
atau pengguna yang sah meninggalkan komputer, sehingga tidak dapat digunakan oleh orang yang
tidak berhak. Begitu pemilik atau pengguna yang sah tersebut kembali di depan komputer, secara
otomatis pengunci akan terbuka dan pemakai dapat menggunakannya kembali seperti biasa.
Gb. Screen Saver dengan proteksi perangkat lunak Face Recognition.
(How Stuff Works - How Facial Recognition Systems Work)
Implementasi dalam lingkup korporasi bahkan lebih luas. Proses validasi pada biro imigrasi,
bandar udara dan pelabuhan dapat membantu pihak kepolisian, khususnya interpol dalam melacak
keberadaan kriminal, bahkan teroris internasional. Dengan dilengkapi database wajah teroris,
sistem dapat mengenali teroris yang melintasi sensornya, bahkan dengan penampilan yang berbeda
dan bersembunyi diantara kerumunan orang.
Gb. Teroris yang menyusup sebagai imigran biasa.
(How Stuff Works - How Facial Recognition Systems Work)
Implementasi lain adalah untuk keperluan identifikasi nasabah pada sebuah mesin pengambil
uang (ATM - Automatic Teller Machine). Dengan digunakannya sistem ini, nasabah tidak perlu
bersusah payah mengingat nomor PIN (Personal Identification Number), membawa kartu ATM,
dan sebagainya. Pihak bank-pun tidak perlu menerbitkan kartu ATM beserta nomor PIN-nya.
Pengambilan uang pada mesin ATM tersebut cukup mudah dan praktis. Sesaat setelah nasabah
tiba di depan mesin ATM tersebut, sebuah kamera pemantau akan men-scan wajah nasabah dan
langsung mengirim citra wajah ke pusat data. Selanjutnya sistem akan mengolah citra tersebut
dan melakukan verifikasi terhadap database nasabah. Jika nasabah tersebut sah, maka nasabah
dapat memulai transaksi, sebaliknya jika tidak sah, mesin ATM tersebut tidak akan bereaksi
terhadap nasabah tersebut.
Gb. ATM dengan sistem pengenalan wajah.
(How Stuff Works - How Facial Recognition Systems Work)
Sistem pengenalan wajah bahkan dapat diterapkan untuk membantu pencarian orang hilang.
Keluarga korban tinggal mengirim foto korban, dapat berupa citra foto maupun citra digital
ke pusat data. Kemudian pusat data akan mengirim citra tersebut ke seluruh cabang dan
relawan. Dan kemudian jika relawan atau anggota masyarakat melihat orang yang mirip dengan
korban, pelapor dapat mengirim citra wajah ke cabang terdekat atau dapat juga melalui internet,
kemudian citra tersebut diolah dan diverifikasi oleh sistem untuk diketahui seberapa jauh
kemiripannya.
Cara Kerja Sistem Pengenalan Wajah
Teknologi pengenalan wajah secara digital atau lebih sering dikenal dengan face recognition
sebenarnya masih dalam taraf pengembangan. Secara umum, cara kerjanya adalah dengan
mengkonversikan foto, sketsa, dan gambar video menjadi serangkaian angka, yang disebut
dengan faceprint lalu membandingkannya dengan rangkaian angka lain yang mewakili
wajah - wajah yang sudah dikenal. Proses pembandingan, baik pembandingan persamaan maupun
perbedaan yang ada dilakukan dengan menggunakan rumus matematika dan algoritma yang cukup rumit.
Secara umum metode yang digunakan sistem pengenalan citra wajah dibagi menjadi 2 yaitu
feature based dan image based.
- Metode feature based
Pada metode ini, fitur lokal didapat dari proses ekstraksi komponen citra wajah
seperti mulut, hidung, mata, pipi dan lain - lain yang kemudian di modelkan secara
geometris hubungan antar fitur - fitur tersebut.
- Metode image based
Metode ini menggunakan informasi mentah dari pixel citra yang kemudian direpresentasikan
dalam metode tertentu, misalnya Principal Component Analysis (PCA), transformasi Wavelet,
dan sebagainya, yang kemudian digunakan untuk pelatihan dan klasifikasi identitas citra.
Salah satu perusahaan perangkat lunak pengenalan citra wajah adalah Visionic Corporation.
Sistem ini memetakan lebih dari selusin titik wajah, atau disebut dengan nodal points,
pada tempat di mana lekuk - lekuk wajah berubah lalu mencoba mencari wajah dengan konstelasi
titik kritis yang mirip. Titik - titik wajah yang dapat dijadikan pedoman antara lain jarak
antar mata, dagu, lebar dahi, tulang pipi, rahang, dan sebagainya. Pada wajah manusia, sedikitnya
terdapat 80 buah titik wajah.
Setelah proses analisa suatu wajah selesai dikerjakan, sistem menampilkan perbendaharaan
gambar wajah yang mirip berdasarkan urutan kesamaan.
Perusahaan lain, Viisage Technology menggunakan metode yang agak berbeda. Sistem ini bekerja
dengan menggambarkan seberapa jauh kemiripan satu wajah dengan 128 wajah archetypal yang ada.
Archetype atau disebut juga eigenfaces tercipta dari kombinasi ratusan wajah yang ada di bank
data lalu dianalisa persamaan dan perbedaannya menggunakan rumus matematika. Kemudian setelah
hasil analisa wajah diperoleh, perangkat lunak ini menampilkan perbendaharaan gambar wajah
yang mirip berdasarkan urutan kesamaan.
Secara garis besar, proses pengenalan citra wajah oleh sistem dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu:
- Deteksi
Ketika sistem terhubung dengan kamera video, perangkat lunak men-scan keberadaan wajah
pada resolusi rendah dengan menggunakan algoritma multi-scale. Scanning dengan resolusi
tinggi digunakan setelah ditemukan citra wajah. Tahap ini memastikan keberadaan kelengkapan
bagian kepala seperti mata, hidung, dahi, mulut, dan sebagainya.
- Pengenalan Posisi
Sesaat setelah sistem mengenali adanya citra wajah, sistem mencoba mengenali posisi,
ukuran maupun pose kepala. Wajah haruslah berada sedikitnya 35 derajat menghadap kamera
agar sistem dapat menganalisanya dengan baik.
Gb. Scanning kelengkapan wajah.
(Photobook/Eigenfaces Demo)
- Normalisasi
Setelah citra wajah berhasil dikenali, sistem kemudian mengatur ulang posisi dan ukuran
wajah agar dapat diproses pada tahap berikutnya dengan baik. Penyesuaian ini dilakukan
untuk memperbaiki kualitas citra wajah berdasarkan posisi kepala dan perbedaan jarak
kamera. Intensitas pencahayaan tidak berpengaruh dalam tahap ini.
- Pengkodean
Dengan algoritma khusus, sistem kemudian mengubah citra wajah menjadi serangkaian angka
yang cukup unik (faceprint). Pengkodean ini dilakukan untuk mempermudah proses perbandingan
citra wajah yang diproses dengan database. Di sinilah inti dari sistem pengenalan wajah.
Gb. Grafik atas hasil pengkodean.
(Photobook/Eigenfaces Demo)
- Perbandingan
Tahap terakhir, sistem membandingkan angka atau nilai yang diperoleh pada tahap sebelumnya
dengan nilai yang telah tersimpan pada database.
Gb. Pembandingan hasil analisa sistem.
(Photobook/Eigenfaces Demo)
Algoritma Pengkodean
Sampai saat ini telah banyak dikembangkan algoritma untuk mendapatkan faceprint.
Berikut beberapa algoritma diantaranya.
- Standar PCA (Eigenfaces)
Standar ini disebut dengan nearest neighbor PCA classifier, atau lebih singkatnya
algoritma Eigenfaces. Algoritma ini telah dipakai sejat awal tahun 1990 dan saat ini
telah banyak variasi hasil pengembangan dan penyempurnaan dari algoritma ini.
Algoritma ini digunakan oleh hampir semua orang. Tujuan algoritma ini sebenarnya
adalah kesederhanaan namun sangat ampuh dalam prakteknya.
Untuk mengenali pola citra wajah, algoritma ini harus mempelajari dahulu melalui
citra - citra yang biasanya telah disediakan pada database citra. Pada tahap pembelajaran
ini, citra dibaca dari suatu matriks data (data matrix) yaitu citra di-dekomposisi dan
disusun menjadi bentuk vektor kolom (coloumn vector). Kolom - kolom vektor yang telah
tersusun digabung menjadi bentuk matriks data.
Data matriks ini kemudian digunakan untuk membuat variasi matriks percontohan.
Nilai eigenfaces dan eigenvectors dari matriks percontohan ini kemudian dihitung.
Eigenvector k pertama (didapatkan dari proses pengurutan nilai eigenvalue) kemudian
ditulis ke file untuk proses klasifikasi selanjutnya. Kemudian serangkaian citra dibaca
dan dianalisa. Hasil analisa kemudian ditulis dalam file untuk kemudian diproses sesuai
dengan parameter yang dikehendaki oleh sistem.
- Linear Discriminant Classifier
Algortima ini merupakan kombinasi dari algoritma Standard PCA yang dilanjutkan dengan
Analisa Diskriminan Linier (Linear Discriminant Analysis) pada lingkup PCA.
- Bayesian Intrapersonal / Extrapersonal Classifier
Algoritma ini dikembangkan di MIT (Massachusetts Informatic Technology).
Algoritma ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian pembelajaran atau pelatihan
(learning part) dan bagian uji (testing part). Versi awal algoritma ini bekerja
kurang memuaskan, timbul beberapa masalah yang belum ditemukan solusinya.
- Gabor Filter Graph Matching
Algoritma ini sebenarnya lebih tepat digunakan untuk proses perbandingan.
Algoritma ini menonjolkan aspek perbandingan fitur.
Prospek Masa Depan
Harus diakui teknik pengenalan citra wajah menjanjikan kemudahan dan keamanan yang cukup tinggi,
namun sebenarnya teknologi ini masih dalam taraf pengembangan, belum dapat dikatakan sempurna
untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih
banyaknya prosentase kesalahan diagnosa dan analisa yang dilakukan oleh sistem ini.
Di samping itu, investasi yang dibutuhkan untuk meng-aplikasikan sistem ini masih
terbilang mahal. Semoga beberapa tahun mendatang, sistem ini dapat mencapai tahap
Kematangan yang cukup dan tersedia dengan harga yang lebih murah.
Referensi
Howstuffworks Inc, How Facial Recognition Systems Work,
http://www.howstuffworks.com/facial-recognition.htm/printable.
Stefanie Olsen dan Robert Lemos, Can face recognition keep airports safe?,
CNET news.com.
Resmana Lim, Marcel J.T. Reinders dan Thiang, Pengenalan Citra Wajah dengan Pemrosesan Awal
Transformasi Wavelet, Proceeding, Digital Sinyal Prosessing, Teknologi dan Aplikasinya (DSPTA),
Gedung Pasca Sarjana ITS, Surabaya.
Baback Moghaddam, Photobook/Eigenfaces Demo,
http://www-white.media.mit.edu/vismod/demos/facerec/basic.html.